“Galungan mengingatkan kita untuk mengalahkan sifat-sifat negatif dalam diri, seperti amarah, ego, prasangka, dan kebencian”.

Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak. - Istimewa
BERDEKATANNYA perayaan Hari Suci Galungan dengan Tahun Baru Hijriah tahun ini dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat persaudaraan lintas agama dan menjaga keharmonisan sosial di Bali. Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, mengajak seluruh masyarakat memaknai kedua hari besar tersebut sebagai pengingat bahwa perbedaan merupakan kekayaan yang harus dirawat dengan sikap saling menghormati.
Menurutnya, masyarakat Bali memiliki warisan nilai luhur yang menempatkan keharmonisan sebagai fondasi kehidupan bersama. Salah satunya melalui filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam lingkungan (Palemahan).
“Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, aspek Pawongan mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun identitas lainnya. Semangat inilah yang perlu terus kita pelihara,” ujarnya.
I Nyoman Kenak menegaskan bahwa berbagai bentuk intoleransi, diskriminasi, maupun sikap yang merendahkan kelompok tertentu tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam tradisi Bali maupun ajaran Hindu. Tantangan sosial yang muncul di tengah perubahan zaman seharusnya disikapi dengan kebijaksanaan, dialog, dan penghormatan terhadap hukum serta norma adat, bukan dengan kebencian atau prasangka.
Ia juga mengaitkan makna Hari Suci Galungan sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma dengan kehidupan masyarakat saat ini. Menurutnya, Dharma tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga melalui perilaku yang menjunjung kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat sesama manusia.
“Galungan mengingatkan kita untuk mengalahkan sifat-sifat negatif dalam diri, seperti amarah, ego, prasangka, dan kebencian. Sikap yang memicu permusuhan atau merendahkan orang lain bertentangan dengan semangat Dharma yang mengajarkan kebajikan dan welas asih,” katanya.
Terkait masih munculnya perdebatan mengenai rasisme dan eksklusivisme di ruang publik, I Nyoman Kenak menilai hal tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai seperti Tat Twam Asi perlu terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar diucapkan. Filosofi yang bermakna “aku adalah engkau dan engkau adalah aku” mengajarkan empati serta penghormatan terhadap sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi informasi dan media sosial kerap mempercepat penyebaran emosi, prasangka, maupun informasi yang belum tentu utuh. Karena itu, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menyampaikan pendapat dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah persatuan.
Menutup pesannya, Ketua PHDI Bali mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum Galungan dan Tahun Baru Hijriah sebagai kesempatan untuk memperkuat semangat menyama braya, gotong royong, dan persatuan. Menurutnya, keberagaman yang dikelola dengan rasa saling menghormati akan menjadi kekuatan besar bagi Bali dalam menjaga kedamaian, kelestarian budaya, dan kehidupan sosial yang harmonis.
“Ketika nilai-nilai Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi benar-benar dihayati dalam tindakan, maka perbedaan identitas tidak akan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi landasan untuk membangun Bali yang damai, inklusif, dan sejahtera bagi semua,” tutupnya.




Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.
© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.