Empat Pasang Curik Bali Dilepasliarkan di Desa Pejeng, Gianyar

Keberadaan pohon-pohon lokal
penghasil biji, buah, serta vegetasi penunjang lainnya menjadi faktor penting dalam membantu curik Bali beradaptasi dan bertahan hidup di alam.

By Manah Bali
| May 23, 2026

Pelepasliaran jalak atau curik Bali (Leucopsar rothschildi) di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, pada Jumat (22/5/2026). - Istimewa

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali bersama Mitra Konservasi Friends of Nature, People and Forests (FNPF) melaksanakan pelepasliaran jalak atau curik Bali (Leucopsar rothschildi) pada empat titik di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring,
Kabupaten Gianyar, pada Jumat (22/5/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pelestarian satwa endemik Bali melalui pelepasliaran di habitat alaminya.

Curik Bali merupakan satwa liar endemik Pulau Bali yang dilindungi sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor
P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Curik Bali memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya dalam membantu penyebaran biji tumbuhan dan menjaga rantai ekologi di habitat alaminya.

Berdasarkan data konservasi global, spesies ini berstatus Critically Endangered (Kritis) dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) akibat tekanan perburuan ilegal dan hilangnya habitat alami. Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi berkelanjutan melalui perlindungan habitat, penangkaran, serta pelepasliaran guna mendukung peningkatan populasi curik Bali di alam liar.

Pelepasliaran burung curik Bali dilakukan setelah habituasi selama satu bulan pada empat titik di Desa Pejeng yaitu kawasan Pura Dalem Tengaling, Puri Agung Somanegara Pejeng, Pura Pusering Jagat, dan Mai Organic, dengan seremoni pelepasliaran dipusatkan di area Pura Dalem Tengaling bersama para undangan yang hadir. Pada masing-masing lokasi dilepasliarkan satu pasang Burung Curik Bali sehingga total satwa yang dilepasliarkan sebanyak empat pasang atau delapan ekor, terdiri dari empat ekor jantan dan empat ekor betina.

Sebelumnya direncanakan sebanyak lima pasang Curik Bali akan dilepasliarkan, namun berdasarkan hasil penilaian akhir terhadap kondisi dan kesiapan individu satwa, hanya empat pasang yang dinyatakan layak dan siap untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya.

Selain mendukung penguatan populasi di alam liar, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga habitat, ekosistem, serta keberlangsungan satwa liar dilindungi melalui keterlibatan aktif masyarakat dan desa-desa sekitar kawasan pelepasliaran.

“Kami berharap Curik Bali yang dilepasliarkan hari ini dapat beradaptasi dengan baik dan
berkembang biak di habitat alaminya. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga habitat serta tidak melakukan perburuan maupun perdagangan ilegal satwa liar dilindungi demi keberlangsungan keanekaragaman hayati Bali untuk generasi mendatang,” ujar Ratna Hendratmoko, Kepala Balai KSDA Bali.

Ratna Hendratmoko juga terus mendorong dukungan seluruh stakeholder dan elemen masyarakat terhadap inisiasi penetapan “Hari Curik Bali Nasional” sebagai momentum bersama untuk meningkatkan kepedulian dan partisipasi publik dalam pelestarian Curik Bali sebagai satwa endemik kebanggaan sekaligus maskot Pulau Bali.

Melalui semangat collective action, sinergi antara pemerintah, desa adat, akademisi, komunitas konservasi, pelaku usaha, dan masyarakat luas diharapkan dapat terus diperkuat guna menjaga keberlangsungan curik Bali beserta habitat alaminya, sekaligus menanamkan nilai-nilai konservasi kepada generasi mendatang.

Prof. Dra. Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni, M.Sc., Ph.D. selaku ornitolog Universitas Udayana menyampaikan bahwa keberhasilan pelepasliaran Curik Bali tidak hanya bergantung pada kondisi satwa yang dilepasliarkan, tetapi juga kesiapan habitat dalam menyediakan sumber pakan alami dan ruang hidup yang mendukung.

Menurutnya, keberadaan pohon-pohon lokal penghasil biji, buah, serta vegetasi penunjang lainnya menjadi faktor penting dalam membantu curik Bali beradaptasi dan bertahan hidup di alam. Selain sebagai sumber pakan, vegetasi tersebut juga berfungsi sebagai tempat berlindung dan lokasi beraktivitas bagi satwa di habitat
barunya.

“Pelepasliaran tidak berhenti pada saat burung dilepas ke alam, tetapi harus diikuti dengan kesiapan habitat yang mampu mendukung keberlangsungan hidupnya. Keberadaan pohon￾pohon lokal yang menghasilkan biji dan buah sangat penting untuk menunjang kebutuhan pakan alami Curik Bali sehingga peluang adaptasi dan berkembang biak di alam menjadi lebih baik,” ujar Prof. Eswaryanti.

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle