PKB telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif.

Pementasan Arja Negak oleh Pertuni Bali di ajang Pesta Kesenian Bali ke-48 tahun 2026. - Manah Bali
SORE itu, suara tembang macapat terdengar lirih dari Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali. Penonton tumpah menyaksikan penampilan Arja Negak yang dibawakan anggota Pertuni Kabupaten Badung.
Dengan posisi duduk, para seniman difabel memukul gamelan dan melantunkan tembang. Meski terbatas dalam penglihatan, tak menyurutkan semangat mereka mempersembahkan kreativitas di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 Tahun 2026.
Sudah hampir setengah abad, PKB menghibur dan menjadi tempat regenerasi seniman Bali. Penampilan para seniman Pertuni Bali menunjukkan PKB bertransformasi lebih dari wadah pemuliaan dan pengembangan seni tradisi Bali. PKB kini menjadi ruang inklusif bagi semua kalangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok disabilitas rutin tampil di ajang festival kesenian terbesar di Bali. Sebelumnya siswa SLB juga beberapa mendapat kesempatan menunjukkan ragam kreativitas seninya di hadapan penonton PKB.
Kurator PKB Prof I Made Bandem mengatakan perjalanan PKB dapat dibagi ke dalam beberapa periode sejak pertama kali dicetuskan pada 1979 hingga sekarang.
Periode pertama pada era Gubernur Ida Bagus Mantra (1978-1988) yang juga penggagas PKB yang disebutnya masa perintisan dan revitalisasi tradisi.
“Kata-kata itu memang keluar dari Pak Prof Mantra selalu menyatakan revitalisasi: pembinaan, penggalian, pengembangan seni kita,” ujar Prof Bandem dalam Diskusi Budaya Kawiya Bali-PWI Bali serangkaian PKB ke-48.
Periode berikutnya adalah konsolidasi dan penguatan identitas Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Ida Bagus Oka (1988-1998). Setelah hampir satu dasawarsa berjalan, kala itu sudah mulai ada kritik bahwa PKB monoton terlalu sering digelar dan tidak ada kesempatan seniman untuk berimajinasi sebab tiap tahun dilakukan. Gubernur Ida Bagus Oka kemudian memutuskan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan PKB.
Hasil evaluasi oleh para pembina dan Tim Universitas Udayana menyatakan bahwa PKB adalah satu strategi pembinaan dan pengembangan budaya Bali. Para seniman PKB pada saat itu juga pada akhirnya disertakan dalam pameran-pameran kebudayaan Bali di luar negeri.
Pada masa ini pula PKB mulai memberikan kesempatan kepada para seniman tua sebagai bentuk apresiasi dan agar semakin dikenal oleh masyarakat. Mereka kemudian menerima sertifikat dan uang pembinaan. “Para seniman tampil menari, disambut baik sekali oleh masyarakat pada waktu itu.”
Masuk ke masa reformasi, periode PKB di bawah Gubernur Dewa Made Beratha (1998-2008) disebut periode reformasi dan pelibatan publik yang lebih luas. Pelibatan senimaan sekaa, banjar, sanggar-sanggar seni sudah terlibat lebih banyak daripada hanya melibatkan para seniman formal dari ASTI, STSI, atau SMKI.
“Karena zamannya reformasi, zamannya masyarakat madani, zamannya demokratisasi, pelibatan publik lebih banyak.”
Berlanjut pada era Gubernur Made Mangku Pastika (2008-2018) disebut periode diplomasi budaya dan diversifikasi festival seni. Pada masa ini PKB diperkaya dengan adanya Festival Seni Bali Mandara Mahalango dan Festival Seni Bali Mandara Nawanatya yang mengadopsi kesenian Bali modern.
Sementara itu, periode saat ini, sejak 2018, Prof Bandem menyebutnya sebagai periode menuju kemapanan dan penguatan ekosistem. Ditandai dengan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 mengatur tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali.
“Periode-periode ini ada karakteristiknya masing-masing. Di zaman Prof Mantra memang belum dirumuskan tema seperti sekarang, tetapi tema utamanya yang sangat luas adalah Ramayana dan Mahabharata sebagai sumber estetika kesenian Bali.”
Transformasi PKB dipastikan terus berlanjut mengikuti tantangan eranya.
Prof Bandem mengatakan semakin banyaknya pertunjukan dan pengunjung membutuhkan tata kelola yang semakin profesional.
Seniman yang tampil di PKB ke-48 Tahun 2026 diketahui mencapai sebanyak 673 sekaa/sanggar dengan melibatkan dengan 20.929 seniman/pelaku seni. Sementara jumlah kunjungan lebih fantastis mencapai 1,8 juta orang dalam sebulan penyelenggaraan.
Seniman dan akademisi Dr. I Kadek Suartaya, S.SKar., M.Si. mengatakan
para seniman, maestro, dan penggagas seni merupakan penjaga memori budaya Bali. Mereka tidak hanya berkarya di panggung PKB, tetapi juga aktif di tengah masyarakat melalui kegiatan ritual, ngayah, dan berbagai aktivitas budaya lainnya.
Karena itu, ia mendorong agar PKB di masa depan tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga menjadi ruang dokumentasi, diskusi, dan pewarisan gagasan para tokoh seni Bali.
"Kalau kita ingin PKB tetap relevan hingga puluhan tahun mendatang, maka yang harus dirawat bukan hanya karya-karyanya, tetapi juga pemikiran, gagasan, dan pengetahuan para maestro yang melahirkan karya-karya tersebut," ujarnya.
Sore itu, seniman Pertuni Badung membawakan lakon berjudul "Putra Kusuma Bangsa". Garapan ini mengangkat kisah heroik perjuangan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lewat seni, pementasan ini menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menghormati jasa para pahlawan sekaligus sebagai bentuk pemuliaan roh leluhur.
Menyaksikan daya juang dan kualitas estetika yang ditunjukkan para seniman disabilitas, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menegaskan bahwa PKB telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif.
“Hari ini kita menyaksikan bahwa Pesta Kesenian Bali benar-benar menjadi wadah bagi semua kalangan, tanpa membedakan penyandang disabilitas maupun non disabilitas. Ini merupakan langkah yang sangat baik dan harus terus kita dorong," ujarnya.




Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.
© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.