Program Sekolah Ekologis Libatkan 33 Sekolah di Bali

Modul Sekolah Ekologis bisa menjadi referensi untuk diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran.

By Manah Bali
| August 3, 2026

Training of Trainers (ToT) Penggunaan Modul Sekolah Ekologis di Kantor Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, berlangsung pada 31 Juli–1 Agustus 2026. - Istimewa

PUSAT Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali berkolaborasi dengan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, dan Aliansi Zero Waste Indonesia resmi memulai Program Sekolah Ekologis periode 2026-2027.

Kegiatan ini diawali dengan Kick-Off Program Sekolah Ekologis yang dirangkaikan dengan Training of Trainers (ToT) Penggunaan Modul
Sekolah Ekologis di Kantor Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, pada 31 Juli–1 Agustus 2026.

Kegiatan diikuti oleh 33 guru dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang merupakan peserta Program Sekolah Ekologis 2026 - 2027.

Sebagai bekal dalam mengimplementasikan Program Sekolah Ekologis di sekolah masing-masing, para peserta mengikuti pendalaman materi mengenai empat tema utama dalam Modul Sekolah Ekologis, yaitu Sampah dan Pengelolaannya, Konservasi Keanekaragaman Hayati, Pangan Sehat, dan Energi Terbarukan.

Peserta juga dilatih cara menyusun rencana implementasi Program Sekolah
Ekologis berdasarkan hasil pemetaan kondisi sekolah dan potensi lingkungan di setiap pembahasan masing-masing tema modul.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, menyampaikan bahwa pendidikan lingkungan dan konservasi perlu menjadi bagian dari pembentukan karakter sejak usia dini. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Bali untuk memperkuat pendidikan karakter lingkungan melalui muatan lokal di sekolah.

"Yang harus kita bangun adalah karakter sejak usia dini. Sekolah-sekolah peserta Program Sekolah Ekologis akan menjadi model dalam mengedukasi generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan," ujar Dwi Arbani.

Dalam materinya mengenai Kondisi Persampahan Provinsi Bali, Dwi Arbani menyampaikan bahwa Bali saat ini tengah menghadapi krisis sampah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya mendukung pelaksanaan Program Sekolah Ekologis PPLH Bali agar sekolah seluruh Bali memiliki model penanganan sampah yang terukur secara aktual dan transparan di era digitalisasi saat ini.

Sementara itu, Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH Bali), Catur Yuda Hariyani mengatakan pencemaran yang dilakukan di lingkungan padat penduduk, memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap tumbuh kembang anak. Seperti halnya di Desa Cinangka Bogor, anak-anak yang berjumlah puluhan orang terserang penyakit seperti keterbelakangan mental hingga cacat fisik, bahkan ada yang meninggal dunia.

Catur berharap Program Sekolah Ekologis dapat menjadi langkah nyata dalam membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan.

"Kami ingin seluruh sekolah terdorong untuk memberikan pendidikan lingkungan sejak usia dini. Melalui Program Sekolah Ekologis, kami percaya bahwa setiap anak berhak hidup di lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan berkelanjutan.”

Catur berharap Modul Sekolah Ekologis bisa menjadi referensi untuk diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran agar dapat mengembangkan karakter mulia seperti jujur, disiplin, gotong royong, cinta lingkungan serta dapat berpikir kritis untuk memahami masalah lingkungan sehingga dapat mencari solusi yang terbaik.

“Menjaga lingkungan menjaga masa depan anak,” ujar Catur.

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle