Makna terdalam dari integrasi ini adalah penerapan ekonomi sirkular (circular economy) dan prinsip zero waste.

Oleh Prof Gede Sedana
MEWUJUDKAN kedaulatan pangan suatu daerah merupakan suatu kewajiban guna mengatasi masalah pangan yang semakin kompleks. Berbagai strategi dapat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan masyarakat termasuk pihak industri pertanian.
Salah satu yang strategi yang mampu untuk mewujudkan hal tersebut adalah membangun integrasi pertanian (dalam arti luas, mencakup tanaman dan perikanan) dengan unit pengelolaan sampah atau TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle).
Kondisi ini tidak semata-mata menempatkan lahan pertanian di sebelah tempat pembuangan sampah tetapi memadukan aktivitas dan produk-produk yang dihasilkan oleh TPS3R dengan pertanian secara berkesinambungan dan memiliki nilai ekonomis, ekologis, sosial selain produktif. Makna terdalam dari integrasi ini adalah penerapan ekonomi sirkular (circular economy) dan prinsip zero waste.
Pada integrasi ini terjadi aliran materi dan energi yang tidak lagi bergerak secara linier (dari proses produksi, konsumsi dan buang), melainkan memiliki sirkulasi dalam sebuah siklus yang berkelanjutan. Sampah organik yang awalnya dianggap sebagai beban lingkungan dan sumber bau, dapat diubah fungsinya melalui TPS3R menjadi sumber daya (nutrisi dan energi) bagi sektor pertanian guna memperbaiki alam (lahan/tanah) untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk tanaman pangan termasuk ikan.
Integrasi ini menciptakan hubungan simbiosis mutualisme yang mandiri, dimana TPS3R menyuplai nutrisi murah dan berkualitas, sementara unit ketahanan pangan memanfaatkan nutrisi tersebut untuk memproduksi karbohidrat, vitamin, dan protein, sekaligus menyerap kembali limbah tanaman menjadi bahan baku kompos baru.
Integrasi antara TPS3R dengan program kemandirian pangan adalah langkah super strategis untuk mewujudkan kedaulatan pangan dalam suatu kawasan. Konsep utamanya adalah mengubah masalah (sampah organik) menjadi solusi (media tanam dan pupuk serta pakan ikan) untuk memproduksi pangan berkualitas secara mandiri dan mengembalikan limbah pertanian ke TPS3R.

Pelajaran yang berharga mengenai integrasi TPS3R dengan pertanian diperoleh dari Desa Sibang Gede, Kabupaten Badung yang telah menunjukkan keberhasilan dan berkelanjutan melalui Pengelola Unit Ketahanan Pangan desa. Komponen-komponen yang terkandung pada integrasi tersebut adalah TPS3R dengan tanaman tanaman cabai, terong, kacang panjang, jagung, dan papaya dan ikan lele sebanyak enam kolam yang berisikan masing-masing 1.500 ekor lele.
Pelajaran penting yang dipetik dari integrasi tersebut adalah sampah organik menjadi komponen pokok dalam produksi pertanian untuk penyediaan pangan, yaitu adanya aliran aliran nutrisi yang berputar dari area TPS3R ke area produksi pertanian pangan. Di hulu (TPS3R), sampah organik dari rumah tangga (sisa makanan, sayuran, daun) dipilah dan diproses menjadi kompos matang atau pupuk organik cair (POC), maggotnya dijadikan pakan ikan lele, dan bekas maggot (Kasgot) menjadi pupuk premium. Sementara itu, di bagian hilir, (produksi pertanian), kompos dan pupuk organik tersebut dialokasikan penuh untuk menyuburkan lahan yang ditanami komoditas jagung, kacang Panjang, cabe, terong dan papaya, serta ikan lele.
Selain itu, limbah kolam lele (air dari kolam lele) juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman-tanaman tersebut. Sebagai siklus balik, sisa-sisa panen yang tidak dikonsumsi (batang jagung, daun tua, buah busuk) dikembalikan lagi ke unit pengolahan kompos TPS3R. Kondisi ini menunjukan bahwa pengelolaan integrasi ini telah memiliki prinsip zero waste.
Menurut ketua pengelola ketahanan pangan desa (Made Mura), pengelolaan usaha tani telah dibuat sesuai dengan zona sesuai dengan karakteristik tanaman, misalnya kelompok tanaman semusim/cepat panen, yaitu cabai, terong, kacang panjang yang dipisahkan dengan kelompok tanaman pangan (buah), yaitu pepaya.
Tanaman pepaya ditumpangsasikan dengan tanaman kacang panjang yang memiliki fungsi mengikat nitrogen dari udara, sehingga membantu menyuburkan tanah di sekitarnya.
Integrasi yang telah dilakukan sedikitnya dapat memberikan Solusi terhadap pengelolaan sampah di desa karena telah diubah menjadi kompos dan pupuk organik serta margot.
Secara mendasar integrasi TPS3R dengan produksi pertanian pangan telah memberikan manfaat, di antaranya adalah mewujudkan ketahanan pangan mandiri (kedaulatan pangan, yaitu menjadi one-stop food estate mini yang menyediakan karbohidrat (jagung), sayur dan buah (cabai, terong, kacang panjang, pepaya), hingga protein hewani (lele) secara mandiri untuk pekerja TPS3R maupun warga sekitar. Selain itu, secara ekonomis, integrasi ini dapat menekan biaya produksi, seperti pembelian pupuk dan pakan ikan, dan memberikan nilai ekonomis yang tinggi.
Dari aspek lingkungan, integrasi TPS3R dengan ketahanan pangan memberikan manfaat sebagai solusi lingkungan yang estetis, yaitu mengubah citra TPS3R yang awalnya terkesan kotor dan berbau menjadi kawasan agro-edukasi yang hijau, asri, dan produktif, karena pengelolaan sampah organiknya cepat diserap oleh maggot dan proses kompos yang benar. Komponen dalam integrasi TPS3R dengan pertanian dapat diperluas sesuai dengan ketersediaan sumber daya dan kebutuhan masyarakat guna mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan desa secara berkelanjutan.
Prof Gede Sedana
Rektor Dwijendra University
Founder Yayasan Aditya Sedana Artha




Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.
© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.