Kritik Sosial dalam “Perempuan di Sawah”

Gerak tubuh sebagai bahasa simbolik untuk menyampaikan gagasan, emosi, sekaligus kritik sosial.

By Manah Bali
| July 5, 2026

Tari kontemporer Perempuan di Sawah buka Singaraja Literary Festival (SLF), pada Jumat (3/7/2026) malam. - Istimewa

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Sekar Jagat, Selat Segara, atau tari penyambutan Bali lainnya, tetapi pembukaan festival justru menghadirkan sebuah tari kontemporer.

Tarian ini juga tidak disajikan di atas panggung utama, melainkan di area penonton, tepat di pintu masuk kawasan bersejarah tempat festival berlangsung. Tari ini berbeda dengan tari penyambutan yang umumnya mengedepankan keindahan visual. Karya tari ini lebih menitikberatkan gerak tubuh sebagai bahasa simbolik untuk menyampaikan gagasan, emosi, sekaligus kritik sosial.

Tari itu berjudul “Perempuan di Sawah” dipentaskan oleh Komunitas Lemah Tulis sebelum acara pembukaan resmi dimulai. Tari ini didukung lima penari perempuan, dengan mengangkat tema perempuan dan tradisi persawahan sebagai narasi agraris yang menyoroti ketangguhan perempuan dalam menjaga ketahanan pangan, siklus bercocok tanam, serta dialog antara kehidupan pedesaan dan modernitas. Kostumnya tampak sederhana, namun mendukung suasana dan menyampaikan pesan. Iringan musik elektronik berhasil membangun suasana pertunjukan.

"Tari Perempuan di Sawah sebenarnya merupakan hasil pemangkasan dari garapan Teater Trikaltari tahun 2024 yang berjudul Prakertaning Dharma Pemaculan. Agar sesuai dengan tema SLF tahun ini, yakni perempuan, saya mengangkat sebagian cerita dari karya tersebut dengan judul yang berbeda," ujar penggarap tari, Putu Bratria Dama Dayanu, usai pementasan.

Dalam koreografinya, tari ini memadukan gerak keseharian petani dengan eksplorasi gerak yang lebih dinamis dan cenderung bebas. Melalui perpaduan tersebut, tari ini menyampaikan pesan mengenai pentingnya memuliakan sawah sebagai ruang kehidupan.

“Di tengah pesatnya pembangunan, berbagai aktivitas pertanian mulai tergerus, sementara keberadaan sawah di Bali terus menghadapi beragam persoalan yang mengancam kelestariannya,” ujarnya.

Meski dikemas dalam pendekatan kontemporer, tari ini tetap berpijak pada tradisi bertani masyarakat Bali dengan penekanan pada simbolisme gerak dan hubungan manusia dengan alam.

Empat babak pertunjukan

Pertunjukan dibagi dalam beberapa bagian. Pada bagian pertama, kelima penari membawa kendi sebagai simbol tradisi mapag toya, yakni ritual menyambut air sebelum mengolah sawah. Gerakan mengambil air dilakukan secara sederhana, namun sarat makna tentang pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan unsur utama dalam sistem irigasi pertanian.

"Mapag toya merupakan simbol bahwa air adalah bagian paling penting dalam pengairan sawah," sebutnya.

Bagian kedua menampilkan eksplorasi gerak tangan, terutama membuka dan mengepalkan telapak tangan sebagai simbol ilmu Jyotisa atau perbintangan. Adegan ini menggambarkan kebiasaan petani Bali zaman dahulu yang menjadikan posisi bintang dan sistem wariga sebagai pedoman menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi maupun palawija.

Menurut Putu Bratria, para petani tradisional tidak sekadar menanam berdasarkan perkiraan. Meski belum mengenal kalender modern, mereka memperhatikan wariga, ilmu perbintangan, hari baik, serta kondisi iklim yang diyakini berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

Bagian ketiga menggambarkan berbagai aktivitas di sawah, mulai dari menanam padi, mencangkul, hingga mengusir burung yang mengganggu tanaman. Seluruh proses pertanian divisualisasikan melalui rangkaian gerak yang dinamis sebagai representasi kehidupan sehari-hari para petani.

Sementara itu, bagian keempat merupakan puncak pertunjukan yang mengangkat tema pemuliaan sawah.

"Pada bagian ini kami kembali merepresentasikan Tari Sang Hyang Dedari sebagai simbol bahwa alam juga memiliki pesan yang disampaikan melalui manusia. Garapan ini sebenarnya merupakan pengembangan dari karya tahun 2024, hanya saja dipadatkan, baik dari sisi pemain maupun alur cerita, agar sesuai dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini," ungkapnya.

Pertunjukan berdurasi sekitar 10 menit ini diiringi musik elektronik yang dipadukan dengan nuansa tradisi. Kostum para penari didominasi tiga warna, yakni merah, hitam, dan putih, yang melambangkan Tridatu sekaligus merepresentasikan nilai-nilai Tri Hita Karana.

"Walaupun mengangkat tema persawahan, konsep Tri Hita Karana tetap hadir di dalamnya. Ada aspek Palemahan saat manusia mengolah sawah, Pawongan melalui semangat gotong royong, dan Parahyangan yang diwujudkan dengan mengawali setiap proses bercocok tanam melalui upacara," pungkas Putu Bratria Dama Dayanu.

Aktivasi Warisan Lontar Melalui Seni

Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 resmi dibuka di Gedung Sasana Budaya, Kabupaten Buleleng, pada Jumat (3/7/2026) malam. Mengusung tema Stri Sasana yang dimaknai sebagai energi keseimbangan semesta, festival yang berlangsung hingga 5 Juli itu menghadirkan 42 program, mulai dari diskusi, lokakarya, peluncuran dan bedah buku, pembacaan puisi, pemutaran film, hingga pertunjukan seni.

Founder sekaligus Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan festival ini secara konsisten menjadikan manuskrip lontar koleksi Gedong Kirtya Singaraja sebagai sumber inspirasi tema dan penciptaan karya seni. Menurutnya, pendekatan tersebut bertujuan menghidupkan kembali pengetahuan yang tersimpan dalam lontar melalui berbagai bentuk alih wahana, seperti teater, puisi, musik, film, dan seni pertunjukan.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan SLF menjadi ruang lahirnya gagasan, dialog, dan kolaborasi kebudayaan. Ia berharap festival mampu menghasilkan karya dan pemikiran yang berkontribusi pada pelestarian budaya.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Syukur Aji Sukrojo, menyebut SLF 2026 menjadi bagian dari trajektori Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Seni Budaya.

Menurutnya, festival menunjukkan bagaimana manuskrip lontar dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis, menilai SLF telah menjadi wadah penting bagi penulis, penyair, pelajar, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem sastra dan literasi. Ia menyebut tema Stri Sasana membuka ruang untuk mengangkat peran perempuan dalam naskah klasik Bali melalui berbagai karya seni kontemporer.

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle