Merasakan Ruang Kota dengan Berjalan Kaki

“Manusia akan lebih merasakan ruang kota pada kecepatan berjalan kaki, pelan-pelan.”

By Manah Bali
| June 9, 2026

Warga menjajal ruang pejalan kaki di Kota Denpasar. - Istimewa

PULUHAN warga yang terdiri dari masyarakat umum, pelajar, penyandang disabilitas, anak-anak, hingga perwakilan perangkat daerah Kota Denpasar dan Provinsi Bali bersama-sama menjajaki trotoar yang ada di Kota Denpasar.

Kegiatan kolaborasi ini diinisiasi oleh WRI Indonesia dan Koalisi Bali Emisi Nol Bersih untuk bersama memberikan kesadaran dan gambaran tantangan yang dihadapi saat berjalan kaki di kawasan perkotaan.

Mereka mencoba berjalan kaki di sekitar area Sanur, Kreneng, Diponegoro-Gadjah Mada, dan Monang Maning merasakan langsung ruang publik kota. Namun, alih-alih menjadi tempat yang paling demokratis dan inklusif, ruang publik di Kota Denpasar seringkali menunjukkan kontras yang nyata.

I Nyoman Juniarta atau biasa dipanggil Bli Jigo, penyandang disabilitas pengguna kursi roda, dalam kegiatan Lokakarya Indeks Walkability menyampaikan banyak tantangan yang ditemui saat menjajaki area trotoar di Monang Maning yang masih jauh dari kata inklusif.

Bli Jigo mengatakan banyak motor yang terparkir di trotoar, bahkan ada juga pedagang yang menjajakan dagangannya di area trotoar sehingga dia pun harus turun ke jalanan aspal. Turun ke jalan tentunya membahayakan karena Bli Jigo harus berbagi dengan kendaraan bermotor.

“Ini yang membuat saya khawatir karena posisi saya mepet sekali dengan mobil dan motor yang melintas, dan bisa jadi saya diklakson,” ungkapnya.

Selain area trotoar yang dijejali kendaraan parkir, Bli Jigo juga menyebut banyak jalan paving yang rusak. Jika memaksakan diri memutar kursi rodanya dia khawatir bisa merusak ban dari kursi roda, apalagi untuk menggantinya perlu menunggu berminggu-minggu untuk pengiriman.

Setali tiga uang dengan Bli Jigo, Bu Jero, penyandang disabilitas netra, mengungkapkan dirinya juga sering harus turun ke marka jalan karena banyak penghalang di trotoar. Menurutnya pemerintah sudah berupaya untuk memasang guiding block di beberapa ruas jalan yang sangat membantu penyandang tuna netra seperti dirinya, namun “sayangnya belum merata di berbagai lokasi.”

Dalam kesempatan itu Bu Jero juga menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan saat berjalan kaki. Pada saat itu dia tidak sengaja menyenggol sepeda motor yang parkir di trotoar hingga menyebabkan deretan motor berjatuhan.

“Sebagai penyandang disabilitas netra, saya pernah menyenggol satu motor yang parkir di trotoar dan akhirnya membuat lima motor yang berjajar jatuh. Sudah mereka salah parkir motor di trotoar, saya malah diminta ganti rugi oleh mereka karena motornya lecet,” ucapnya.

Indeks walkability menjadi langkah pertama utk mewujudkan mobilitas inklusif

Untuk mendukung strategi pembangunan yang inklusif, indeks walkability (kemudahan berjalan kaki) menjadi langkah awal yang krusial dalam menciptakan kawasan perkotaan dan sistem mobilitas berkelanjutan.

Menilai kualitas jalur pejalan kaki bukan sekadar menghitung panjang trotoar yang terbangun, melainkan memastikan bahwa seluruh ruang kota dapat diakses secara aman, mandiri, dan nyaman oleh semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Kesadaran mendalam inilah yang mendasari pelaksanaan Lokakarya Indeks Walkability yang diadakan oleh WRI Indonesia sehari sebelumnya. Melalui pelatihan intensif ini, para peserta dibekali pengetahuan praktis dan metode observasi untuk memahami dinamika di lapangan. Indeks walkability menjadi langkah pertama utk mewujudkan mobilitas inklusif.

Dalam prosesnya, penentuan kriteria apa saja yang perlu digunakan dalam indeks walkability untuk mendesain Kota Denpasar yang walkable mengikutsertakan berbagai latar belakang elemen masyarakat dan pemerintah, yang nantinya menghasilkan rekomendasi strategis pengembangan ruang pejalan kaki yang kontekstual yang akan diberikan kepada pemerintah dan pembuat kebijakan.

Transport and Urban Design Specialist WRI Indonesia, Dini Amattullah, menyampaikan bahwa ketika ruang jalan dirancang untuk manusia maka aktivitas sehari-hari kembali muncul dan kehidupan kota tumbuh secara alami.

“Manusia akan lebih merasakan ruang kota pada kecepatan berjalan kaki, pelan-pelan. Ketika manusia hadir di ruang kota, interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kehidupan publik ikut berkembang. Walkable City bisa dicapai apabila terdapat tempat tujuan yang dapat dicapai dengan berjalan kaki, ruang jalan yang nyaman, pejalan kaki aman terlindung dari kendaraan bermotor, dan sepanjang perjalanan terasa menarik,” ujar Dini.

Akademisi Universitas Warmadewa, Brahmantya Murti, menambahkan keberadaan akses infrastruktur pejalan kaki mestinya menjadi prioritas. Pola pembangunan di negara maju bisa menjadi best practice untuk diadaptasi di wilayah perkotaan Bali.

“Beberapa negara barat yang pola pembangunannya car-oriented pun tetap memiliki aturan untuk memprioritaskan akses pejalan kaki dan memastikan infrastrukturnya tetap ada,” kata Gung Bram.

Paradigma walkable city

Sebagai wilayah metropolitan yang terus tumbuh, Denpasar menghadapi tantangan mobilitas yang cukup pelik. Tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi berpotensi mengikis kenyamanan kota.

Doni Kurniawan dari Komunitas Denpasar Sepeda mengatakan Kota Denpasar kini harus mulai menggeser paradigma pembangunannya menjadi walkable city yang lebih inklusif dan mendukung upaya mobilitas berkelanjutan.

“Keputusan bertransportasi dan bermobilitas merupakan keputusan yang rasional, memilih opsi yang paling nyaman dan bisa diakses. Bagaimana kita bisa mendorong jalan kaki kalau aksesnya belum memadai?” ujarnya.

Doni menekankan bahwa hal ini perlu menjadi perhatian bersama bukan hanya dari infrastruktur saja, melainkan sikap kita terhadap ruang pejalan kaki yang butuh mendapat prioritas.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Bidang Bina Marga Dinas PUPRKIM Provinsi Bali, I Putu Gede Mahendra Ari Palguna, dalam kesempatan sama menyampaikan apresiasi dengan kegiatan yang dilaksanakan serta mencatat banyak masukan dari masyarakat selama diskusi.

Ari Palguna juga melihat perlu adanya penyesuaian dan evaluasi desain infrastruktur. “Keberadaan pohon dan tanaman di trotoar berfungsi untuk peneduh bagi pejalan kaki serta memberi nuansa asri akan wajah alam Bali. Namun, tidak dipungkiri tadi kita lihat banyak akar pepohonan yang merusak trotoar, yang perlu menjadi bahan evaluasi kami. Bahkan keberadaan ramp juga belum maksimal karena digunakan untuk parkir kendaraan.”

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle