IDEP Selaras Alam Dampingi Desa di Gianyar dan Karangasem Produksi Media Komunikasi Mitigasi Bencana

Proses penciptaan beragam media edukasi ini sangat menekankan pentingnya pelibatan seluruh lapisan masyarakat secara utuh.

By Manah Bali
| July 17, 2026

Presentasi Hasil Ide Sebelum Ekseksui Produksi Media Poster Edukasi di Desa Nawa Kerti, Kecamatan Abang, Karangasem. - Istimewa

MENGHADAPI tantangan cuaca ekstrem yang semakin nyata, Yayasan IDEP Selaras Alam baru saja merampungkan rangkaian kegiatan "Lokakarya Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat (Risk Communication and Community Engagement/RCCE) serta Instalasi Rambu-rambu Kebencanaan". Upaya nyata dalam penguatan ketahanan iklim desa ini sukses diselenggarakan secara maraton, yang dimulai di Kabupaten Karangasem pada 7-10 Juli 2026, dan di Kabupaten Gianyar sejak 13-16 Juli 2026.

Direktur Eksekutif IDEP Selaras Alam Edward Angimoy, mengatakan perubahan iklim telah memicu peningkatan intensitas bencana hidrometeorologi secara signifikan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Provinsi Bali masuk dalam sepuluh wilayah dengan kejadian cuaca ekstrem tertinggi sepanjang tahun 2024, yang berdampak langsung pada wilayah Kabupaten Gianyar dan Karangasem.

“Dari pengalaman, kami belajar bahwa krisis iklim dan seluruh dampaknya kerap dirasa jauh. Padahal banjir bandang, tanah longsor, dan gelombang tinggi yang makin sering dialami bahkan telah menghilangkan nyawa tetangga,” kata Edward.

Menjawab tantangan tersebut, lokakarya yang menjadi bagian dari Program Bali Mandala 2025 bertujuan mengaktualisasikan dokumen perencanaan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) agar tidak hanya berakhir di atas kertas, tetapi menjadi aksi yang implementatif.

Salah satu pencapaian utama dan paling nyata dari kegiatan ini adalah keberhasilan masyarakat di empat desa dalam merumuskan media komunikasi risiko mereka sendiri, yang secara khusus dirancang sesuai dengan ancaman di wilayah masing-masing.

“Bahasa dan cara penyampaian masalah jadi salah satu kunci utama untuk mengurangi dampak krisis iklim. Yang kami lakukan adalah mengajak masyarakat untuk menghasilkan media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang krisis iklim dalam bahasa dan bentuk yang cocok dengan mereka,” ujar Edward.

Di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, partisipasi aktif masyarakat Desa Nawa Kerti berhasil memproduksi satu video edukasi tentang cuaca ekstrem dan satu poster peringatan tanah longsor.

Semangat yang sama juga terlihat di Desa Labasari, di mana masyarakat menghasilkan satu video mengenai antisipasi kebakaran hutan serta satu lagu terkait ancaman gelombang tinggi.

Sementara itu, di wilayah Kabupaten Gianyar, tepatnya di Kecamatan Tampaksiring, masyarakat Desa Pejeng Kelod sukses merancang dua poster mitigasi yang berfokus pada antisipasi tanah longsor dan banjir genangan.

Tidak ketinggalan, kolaborasi masyarakat di Desa Manukaya juga membuahkan hasil berupa dua poster yang merinci langkah-langkah penanganan tanah longsor, secara komprehensif memuat panduan untuk fase pra-bencana maupun pasca-bencana.

Pelibatan seluruh lapisan masyarakat

Proses penciptaan beragam media edukasi ini sangat menekankan pentingnya pelibatan seluruh lapisan masyarakat secara utuh. Untuk memastikan terwujudnya ruang yang setara, Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD PB) Provinsi Bali dan Yayasan Cahaya Mutiara Ubud secara khusus dilibatkan sebagai fasilitator.

Kehadiran mereka berperan sangat krusial dalam mendampingi masyarakat di keempat desa agar mampu merumuskan strategi komunikasi bencana melalui perspektif yang inklusif.

Edward mengatakan, dampak dari rentetan kejadian bencana di Bali sangat dirasakan oleh kelompok berisiko di tingkat desa, terutama perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

“Kami juga memastikan bahwa yang diajak berasal dari perwakilan kelompok masyarakat yang selama ini kurang dilibatkan seperti kelompok disabilitas, orang muda, dan perempuan,” kata Edward.

Dua penyandang disabilitas Ni Nengah Warni, 26, dan Ni Nengah Nuriati, 49, yang bernaung di Yayasan Cahaya Mutiara Ubud, bertindak langsung sebagai fasilitator di Kecamatan Tampaksiring. Bagi mereka, kegiatan ini adalah wujud keberdayaan disabilitas di tengah masyarakat.

“Ini menambah wawasan, kalau misalnya terjadi bencana, apa yang harus dilakukan seorang disabilitas. Itu yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan diri. Harus gimana menyelamatkan diri sendiri maupun orang lain.”

Dampak positif dari ruang aman dan inklusif ini juga dirasakan langsung oleh para peserta. Anak Agung Gede Yoga, 25, seorang pemuda penyandang disabilitas fisik dari Kecamatan Tampaksiring, menyambut antusias kegiatan ini sebagai wadah belajar sekaligus ruang bersosialisasi yang selama ini terbatas baginya.

“Senang ada acara gini biar bisa tahu bencana di desa, sejenis banjir atau tanah longsor, biar tahu juga harus ngapain, kegiatan waspadanya apa saja,” ujarnya.

Yoga juga menaruh harapan besar agar pelibatan aktif kaum disabilitas dengan porsi peran yang bermakna terus diutamakan. Menurutnya, hal ini akan memotivasi rekan-rekan disabilitas lainnya yang mungkin masih belum percaya diri untuk berbaur dan berdaya di tengah masyarakat.

Selain memproduksi media, rangkaian kegiatan juga memfasilitasi instalasi plang serta rambu-rambu kebencanaan di titik-titik rawan strategis pada masing-masing desa sasaran.

Melalui hasil karya masyarakat dan pemasangan rambu kebencanaan yang baru saja rampung secara utuh, desa-desa tersebut diharapkan semakin siap, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di masa depan, dengan memastikan tidak ada satu pun masyarakat yang tertinggal dalam proses mitigasi dan penanggulangannya.

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle